YOLO tapi Dompet Sekarat vs Frugal Living tapi Stres: Lu Beneran 'Self-Reward' atau Cuma FOMO Berkedok 'Healing'?

JAKARTA — Di tengah gempuran tren media sosial, anak muda zaman sekarang seolah dipaksa memilih satu dari dua sekte gaya hidup yang ekstrem: Menjadi penganut YOLO (You Only Live Once) yang selalu mengutamakan kesenangan hari ini, atau menjadi pengikut setia Frugal Living yang rela hidup super hemat demi masa depan yang aman.
Keduanya memiliki pembenaran masing-masing. Kaum YOLO berlindung di balik tameng "Uang bisa dicari, tapi masa muda tidak bisa diulang," sementara kaum Frugal Living memegang prinsip "Sakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian."
Namun, jika kita bedah lebih dalam secara psikologi sosial, benarkah kedua gaya hidup ini benar-benar membawa kebahagiaan? Ataukah kita sebenarnya hanya terjebak dalam ego masing-masing?
1. Jebakan "Self-Reward" Kaum YOLO yang Berujung Boncos
Bagi penganut YOLO, setiap kali pulang kerja setelah minggu yang melelahkan, mereka merasa berhak mendapatkan "hadiah" atas kerja keras mereka. Istilah kerennya: Self-Reward atau Self-Healing.
Masalahnya, batas antara self-reward dan pemborosan tanpa arah kini semakin kabur. Banyak orang rela merogoh kocek ratusan ribu hingga jutaan rupiah demi nongkrong di kafe estetik, membeli barang bermerek yang jarang dipakai, atau liburan impulsif demi konten di media sosial.
Psikolog menyebut fenomena ini sebagai Hedonic Treadmill, sebuah kondisi di mana manusia terus mencari tingkat kesenangan yang lebih tinggi karena kesenangan sebelumnya cepat terasa biasa saja. Alih-alih merasa tenang (healing), yang didapatkan setelah tagihan datang justru rasa cemas yang lebih parah (self-killing secara finansial).
2. Sisi Ekstrem Frugal Living: Hidup Hemat atau Tersiksa?
Di seberang jalan, ada kaum Frugal Living yang menatap sinis gaya hidup YOLO. Mereka mencatat setiap butir pengeluaran, menolak ajakan nongkrong, dan menekan biaya hidup hingga ke batas minimum.
Mempersiapkan masa depan tentu hal yang sangat bijak. Namun, ketika hidup hemat berubah menjadi "pelit pada diri sendiri", ada harga kesehatan mental yang harus dibayar. Menolak semua bentuk hiburan dan mengunci diri dari interaksi sosial demi melihat angka di rekening bertambah seringkali melahirkan rasa kesepian dan kejenuhan yang akut.
Masa muda yang seharusnya diisi dengan pengalaman dan tawa bersama teman, justru habis dalam kecemasan konstan tentang masa depan yang belum tentu terjadi.
3. Jalan Tengah: Kebahagiaan Itu Tidak Harus Mahal
Sebuah studi psikologi tentang kebahagiaan menunjukkan bahwa otak manusia sebenarnya tidak membutuhkan hal-hal mewah untuk melepaskan hormon dopamin (hormon bahagia). Kesenangan kecil yang konsisten seringkali jauh lebih efektif meredakan stres dibanding liburan mahal setahun sekali.
Kuncinya adalah efisiensi emosional. Menghabiskan waktu dengan bermain game favorit bersama teman di malam hari, atau maraton serial drama yang sudah lama diincar di kamar, adalah bentuk self-reward yang sangat sehat secara mental dan sangat ramah bagi dompet. Anda tetap bisa menikmati hidup (YOLO) tanpa harus mengorbankan tabungan masa depan (tetap Frugal).
Kesimpulan: Bijak Mengatur Kebahagiaan
Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang memilih menjadi miskin di masa depan demi bahagia hari ini, atau tersiksa hari ini demi kaya di masa tua. Keseimbangan adalah kunci utama.